CINTA ADALAH AKAR DARI SEGALA DISENSUS
Oleh Najmudin Khoerul Amal
![]() |
| https://id.m.wikibooks.org/wiki/Berkas:Louis_Jean_Francois_Lagren%C3%A9e_-_Amor_and_Psyche.jpg |
Sekitar tahun 2021, tepatnya pada bulan Februari merupakan masa transisi awal dari segala degradasi. Implementasi resolusi refleksi dan kontemplasi mengenai hal ihwal cinta dan permasalahannya saya kira sudah terealisasi. Buku-buku putih seperti karya Kahlil Gibran, Nur Chasanah, Brian Khirsna, Boy Candra, Apriyandi, Usman Arumi, Stefani Bella dan Syahid Muhammad bahkan sampai dengan Eka Kurniawan semua sudah saya baca. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, bait demi bait, paragraf demi paragraf, lembaran demi lembaran, sudah dikonfrontasikan pada wajah diri yang penuh penyesalan, namun demikian, saya tak menemukan makna esensial yang termaktub di dalamnya.
Lima semester telah berlalu dan selama itu saya merasa ada sirkulasi yang sama disetiap satu semesternya. Yakni, adanya reduksi ruang pemaknaan terkait definisi mengenai kata Cinta. Bahwa cinta yang dikonotasikan pada lawan jenis adalah asmara, padahal ia berbeda secara terminologinya. Bagi Arumi, Asmara hanya diartikan sebagai perasaan lawan jenis ia lebih ke passion, spirit dan gairah. Sementara, Cinta memiliki banyak sekali komponennya.
Oleh karenanya, saya kira cinta bisa menjadi kata sifat (adjektiva), kata benda (nomina) sekaligus kata kerja (verba) tanpa harus mengambil proses transposisi sufiks, afiks, prefiks serta konfiks. Dengan demikian, cinta memiliki variabel yang cukup luas untuk dimaknai.
Ada yang mengasumsikan bahwa cinta bermula dari pandangan pertama yang tak pernah selesai. Saya kira, secara empiris pribadi pendapat demikian dapat digeneralisasikan, dikonsensuskan serta dibuktikan bahwa Cinta adalah akar dari segala disensus.
Pada ranah-ranah mitologi, teologi, country, sekaligus ideologi, cinta seringkali bersemayam di dalamnya, bahwa sejarah cinta adalah sejarah siklus pembangunan sekaligus kehancuran. Cinta bisa melahirkan kepercayaan namun juga melahirkan kesesatan, ia bisa melahirkan kasih sayang namun juga melahirkan dendam, ia bisa melahirkan perdamaian namun juga melahirkan peperangan. Oleh karenanya secara fluktuasi zaman, ia memproduksi dikotomi belenggu-belenggu dilematis yang menjiwai. Bahwa konteks permasalahan dunia tidak akan bisa terlepas dari cinta.
Saya kira pendapat pribadi demikian selaras dengan perspektif Fredrich Nietzsche, ia pernah mengatakan bahwa, "Cinta adalah penyakit. Ia membuat orang lemah di hadapan insan yang dicintainya. Ia menyebabkan candu kehidupan, seakan-akan hidup tak punya arti tanpanya, dan seseorang harus memiliki kebergantungan dengannya".
Oleh karenanya, siapa yang mempunyai cinta maka ia adalah budak darinya. Pada konotasi manusia akalnya akan stagnan, reasoningnya akan chaos. Padahal sejatinya manusia adalah makhluk yang bebas, eksistensialis sekaligus anarkis. Namun demikian pada hal yang sama tak merubah kenyataan, bahwa siapa yang tidak ingin tidak dicintai?? Maka jawabannya tidak ada!!. Bahkan seorang Tan Malaka sekaligus Soe Hoek Gie yang memang jauh dari kata Cinta pada dimensi lawan jenis pun masih ingin mencintai dan dicintai oleh Paramita & Maria.
Akhirul kalam, Cinta diaransemen menjadi bunyi-bunyi manipulatif, nyanyian-nyanyian kemunafikan. Canda, tawa, dan tangisan hanyalah ritme nada kebohongan.

Komentar
Posting Komentar