Menelusuri Jejak Tarling: Dari Eksperimen Sugra Hingga Menjadi Identitas Kota
Menelusuri
Jejak Tarling: Dari Eksperimen Sugra Hingga Menjadi Identitas Kota
Oleh: Kominfo IKMI Cirebon
Di pesisir utara Jawa Barat, khususnya di wilayah Cirebon dan Indramayu, alunan musik yang khas sering kali terdengar dalam berbagai perhelatan rakyat. Musik itu akrab, mendayu, namun juga bisa menghentak dinamis. Orang menyebutnya Tarling. Namun, "Seni Tarling itu apa ya?" dan bagaimana ia bisa menjadi begitu mendarah daging di masyarakat? Mari kita telusuri perjalanannya.
Kelahiran Sebuah Eksperimen (1931)
Sejarah mencatat bahwa embrio Tarling mulai muncul jauh sebelum Indonesia merdeka sepenuhnya, tepatnya pada tahun 1931. Kelahirannya bermula di Desa Kepandean, Indramayu.
Berbeda dengan kesenian lain yang mungkin lahir dari ritual sakral, Tarling lahir dari kreativitas murni seorang tokoh bernama Sugra. Ia melakukan eksperimen musik yang unik pada zamannya, yakni mencoba memadukan nada-nada gitar (alat musik Barat) dengan tangga nada gamelan (musik tradisional). Perpaduan ini menghasilkan harmoni baru yang segar; modern namun tetap berakar pada tradisi.
Asal-Usul Nama dan Peresmian (1962)
Meski musiknya sudah dimainkan sejak tahun 30-an, nama "Tarling" sendiri baru diperkenalkan secara resmi beberapa dekade kemudian. Pada tahun 1962, para seniman bersama Kepala RRI Cirebon saat itu meresmikan nama tersebut.
Nama "Tarling" diambil sebagai akronim yang menggambarkan perpaduan dua alat musik utamanya: Gitar dan Suling. Sejak saat itulah, istilah Tarling melekat erat dan menjadi genre tersendiri yang diakui keberadaannya.
Masa Kejayaan (1970-1990an)
Setelah namanya dikukuhkan, Tarling tidak butuh waktu lama untuk merebut hati masyarakat. Periode tahun 1970 hingga 1990-an dicatat sebagai Masa Kejayaan Tarling.
Pada era ini, Tarling menjadi hiburan yang sangat fenomenal. Ia mendominasi panggung-panggung hiburan rakyat di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Suara khas penyanyi Tarling dan petikan gitar yang meniru bunyi gamelan menjadi "soundtrack" kehidupan masyarakat sehari-hari pada masa itu.
Fleksibel, Adaptif, dan Meriah
Salah satu kunci mengapa Tarling mampu bertahan melintasi zaman adalah sifatnya yang fleksibel dan adaptif. Tarling dianggap sangat luwes. Ia tidak kaku pada satu pakem saja.
Musik ini mampu melebur dan memainkan berbagai genre, mulai dari lagu tradisional, dangdut, pop, hingga lagu-lagu modern yang diaransemen ulang dengan gaya Tarling. Kemampuan adaptasi inilah yang membuat Tarling tetap relevan di telinga generasi tua maupun muda.
Dalam pertunjukannya, Tarling selalu identik dengan suasana yang meriah. Biasanya ditampilkan dalam acara hajatan, syukuran, atau festival budaya. Suasananya sangat akrab, tidak berjarak, di mana penonton sering kali ikut bernyanyi bersama, menciptakan interaksi yang hangat antara seniman dan penikmatnya.
Identitas Kota
Kini, Tarling bukan lagi sekadar hiburan. Ia telah bertransformasi menjadi Identitas Kota. Bagi masyarakat Cirebon dan Indramayu, Tarling dianggap sebagai jati diri mereka. Ia adalah simbol budaya yang merepresentasikan kreativitas, keterbukaan, dan semangat masyarakat pesisir yang dinamis.
Dari eksperimen sederhana Sugra di tahun 1931 hingga menjadi ikon budaya hari ini, Tarling membuktikan bahwa seni tradisi yang mau beradaptasi akan selalu memiliki tempat di hati masyarakatnya.
Sumber :
Perkembangan dan Fungsi Seni Musik Tarling Cirebonan
MAC UI – Ditjen Kebudayaan Kolaborasi Apresiasi Kreativitas Kesenian Tarling Cirebon
Komentar
Posting Komentar