MANIFESTO MAHASISWA KIRI

Oleh: Najmudin Khoerul Amal
Senin, 29 Agustus 2022

foto: ardnl_


Sejarah menunjukan bahwa kaum muda menjadi tulang punggung dalam perjuangan melawan penindasan dan revolusi. Tokoh-tokoh progresif atau revolusioner seperti Tan Malaka, Sjahrir, Semaun, dsb. terlibat dalam perjuangan sejak belia. Kaum Muda Indonesia juga berperan penting pada perubahan sosial di Indonesia. Revolusi 1945 sering disebut Revolusi Pemuda. Namun kaum muda Indonesia juga memainkan peran negatif saat penggulingan Soekarno dan pembantaian massal 1965. Kaum muda Indonesia berperan sejak awal kemunculan pergerakan di Indonesia pada tahun 1920-an. Menyebarluaskan ideologi nasionalisme dan sosialisme. Di bawah Rezim Militer Soeharto, gerakan mahasiswa kembali membangun perlawanannya pada tahun 1974 dan 1978. Pasca gerakan mahasiswa 1978, berkembang gerakan kaum muda-mahasiswa yang berperan besar pada penggulingan Soeharto.


Setelah kemerdekaan tercapai selama lebih dari tujuh dekade, kenyataan menunjukkan bahwa kita masih jauh dari tujuan kesejahteraan dan kedaulatan. Kita melihat dengan penuh kecemasan bahwa para pemimpin negara maupun pemimpin kepemerintahan ini telah membawa kepada keadaan yang amat sangat mengkhawatirkan. Diktator perseorangan & golongan yang berkuasa bukan lagi merupakan suatu bahaya diambang kita. Tetapi telah menjadi suatu kenyataan serta keterimaan. Cara-cara kebijaksanaan negara & pemerintahan bukan saja bertentangan dengan asas-asas kerakyatan dan hikmah kemusyawaratan. Bahkan menindas serta memperkosanya. Jelas saja, bangsa kita hari ini masih jauh dari kata kesejahteraan.


Segala upaya menghentikan pemikiran kiri pada generasi muda, pada akhirnya adalah sebuah kesia-siaan. Pemikiran kiri adalah bagian dari proses pendewasaan seorang mahasiswa, dan kaum muda pada umumnya. Mahasiswa baru selalu terpesona pada pemikiran radikal, dan itu tersedia dalam khazanah wacana kiri. Tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Sutan Sjahrir, atau bahkan Soe Hok Gie tidak akan pernah kekurangan pengagum dari generasi ke lintas generasi.

 

Catatan harian Sutan Sjahrir saat diasingkan di Pulau Banda misalnya, yakni Renungan Indonesia, masih banyak dicari mahasiswa sampai sekarang, meski tidak pernah dilakukan cetak ulang sejak tahun 1960-an. Demikian juga dengan karya-karya Tan Malaka, seperti Madilog.

 

Kita bisa melihat langsung  pada sentra-sentra buku lama (bekas) seperti di Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta, buku karya Tan Malaka adalah yang paling banyak dicari. Salah satu alasan, mengapa figur seperti Tan Malaka, Sjahrir, & Gie tak akan pernah pudar, adalah pandangan humanisme mereka. Keduanya dianggap sebagai pemikir idealis sejati, nyaris tidak memiliki ambisi kekuasaan, seluruh hidupnya diabdikan pada kemanusiaan.

 

Selama ketidakadilan dan penderitaan bisa dilihat secara kasatmata, pemikiran atau aspirasi kiri selalu memiliki ruang. Gerakan mahasiswa yang masif pada isu RUU KPK, atau soal pelanggaran HAM di Papua, adalah bagian dari aspirasi “kiri”, mengingat yang menjadi korban dari tindak korupsi dan pelanggaran HAM adalah rakyat bawah. Bahwa isu penderitaan rakyat,  kemudian acapkali dijadikan komoditas politik, adalah sesuatu yang biasa. 


Kita generasi baru ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Kita akan menjadi hakim atas mereka yang dituduh sebagai seorang hipokrit. Memang, cuma pada kebenaran kita bisa berharap, di sisi lain kebenaran hanya ada dilangit dan dunia hanyalah palsu, palsu!!.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menelusuri Jejak Tarling: Dari Eksperimen Sugra Hingga Menjadi Identitas Kota

IKMI Dugawe 2025: Merawat Tradisi, Mengukir Perubahan

IKMI Cirebon Gelar Workshop Digital Learning, Perkuat Literasi Keuangan Mahasiswa